HomeUX DesignJakob’s Law: Prinsip Penting dalam Merancang User Experience (UX)

Jakob’s Law: Prinsip Penting dalam Merancang User Experience (UX)

Sebagian dari kita mungkin pernah install aplikasi baru, dan tanpa membaca panduan apapun, kita sudah langsung tahu cara menggunakannya. Sama halnya dengan ketika kita membuka website toko online yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Kita sudah paham bahwa posisi keranjang belanja ada di bagian kanan atas, fitur pencarian produk menggunakan ikon kaca pembesar, dan melakukan klik pada logo akan membawa kita kembali ke halaman utama. Itu semua bukan terjadi secara kebetulan. Ada prinsip desain yang menjelaskan fenomena ini yang bernama Jakob’s Law.

Apa Itu Jakob’s Law?

Jakob’s Law merupakan sebuah prinsip dalam User Experience (UX) yang diperkenalkan oleh Jakob Nielsen pada tahun 2000. Dia adalah seorang pakar usability dengan rekam jejak yang sangat baik.

Users spend most of their time on other sites, and they prefer your site to work the same way as all the other sites they already know.

Intinya, pengunjung website kita menghabiskan sebagian besar waktu mereka di website lain. Mereka sudah terbiasa dengan cara kerja website tersebut dan berharap website kita bekerja dengan cara yang sama. Saat berkunjung ke website kita, bahkan sejak kunjungan pertamanya, mereka memiliki ekspektasi yang terbentuk dari seluruh pengalaman digital mereka sebelumnya. Dan tidak hanya untuk website, Jakob’s Law juga berlaku untuk produk digital lain termasuk aplikasi pada perangkat bergerak.

 

Mental Model: Konsep Psikologis di Balik Jakob’s Law

Mental model adalah representasi internal yang kita bentuk tentang bagaimana sesuatu bekerja.  Ini merupakan gambaran kognitif yang dibangun berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan asumsi seseorang terhadap suatu sistem. Sederhananya, mental model adalah tentang apa yang apa yang orang pikir akan terjadi ketika mereka melakukan sesuatu. Pada dasarnya, mental model ini merupakan konsep psikologis yang ada di balik Jakob’s Law.

Contoh sederhana konsep mental model terlihat ketika seseorang melihat ikon folder di komputer. Mereka langsung “tahu” itu tempat menyimpan file. Hal tersebut dikarenakan mental model mereka sudah terbentuk dari pengalaman dunia nyata (folder fisik) maupun pengalaman digital sebelumnya.

Memahami konsep mental model sangat penting dalam konteks perancangan UX. Ketika desain sebuah produk selaras dengan mental model pengguna, mereka bisa langsung menggunakannya tanpa perlu belajar dari nol. Beban kognitif berkurang, dan pengguna bisa fokus pada tujuan mereka.

 

Bagaimana Menerapkan Jakob’s Law?

Jadi, bagaimana kita sebagai desainer dapat menerapkan prinsip ini? Setidaknya ada empat cara praktis untuk menerapkan Jakob’s Law.

Yang pertama: gunakan pola desain yang sudah dikenal. Tempatkan elemen-elemen seperti search bar, navigasi, dan keranjang belanja di posisi yang sudah umum dan familiar bagi pengguna.

Yang kedua: pahami mental model pengguna aplikasi kita. Lakukan riset! Gunakan metode seperti user interview, membuat persona, journey map, atau empathy map untuk memahami ekspektasi mereka.

Yang ketiga: jika harus melakukan perubahan besar, lakukan secara bertahap. Berikan pengguna waktu untuk beradaptasi. Sediakan opsi untuk kembali ke versi lama jika memungkinkan.

Dan yang keempat: jangan takut berinovasi, namun pastikan inovasi tersebut benar-benar meningkatkan pengalaman pengguna, bukan sekadar berbeda. Jangan lupa untuk selalu mengujinya pada pengguna yang sebenarnya.

Satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa Jakob’s Law bukan berarti semua website atau aplikasi harus terlihat sama. Poin pentingnya adalah memanfaatkan pengalaman yang sudah dimiliki pengguna dan hal-hal yang sudah mereka ketahui. Desain yang baik bukan tentang memaksa pengguna belajar hal baru, melainkan membuat mereka merasa sudah tahu cara menggunakannya.

Kurang lebih itulah Jakob’s Law. Silahkan share artikel ini jika menurut Anda bermanfaat.

Berliyanto
Berliyantohttps://www.berliyanto.com
Dosen di Institut Teknologi Budi Utomo yang aktivitas kesehariannya tidak bisa lepas dari mengajar, meneliti, dan mengabdikan diri kepada masyarakat. Memiliki minat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan software engineering, UI/UX Design, IS/IT management, e-Learning, dan higher education management. Kadang-kadang suka juga menulis di Blog ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here